Batu Bara ICE Newcastle Lanjutkan Kenaikan ke 138,90, HBA akan Berubah Besok

  • Batu Bara ICE Newcastle menutup hari kemarin di 137,80 setelah sempat naik ke 138,90.
  • Harga Batu Bara Acuan (HBA) akan diperbarui untuk periode pertama Mei 2026.
  • Ketahanan energi Indonesia salah satunya disebabkan oleh produksi batu bara yang bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 137,80 yang lebih tinggi 2,99% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 137,25 dan merayap naik untuk mencatatkan tertinggi hari 138,90 yang juga lebih tertinggi sejak 8 April 2026. Komoditas ini melanjutkan rebound dari 117,50 di tengah potensi berlanjutnya blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Secara teknis tren batu bara ini adalah naik karena harga komoditas tetap di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Tren naik tersebut didukung oleh Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 58,6 yang mengindikasikan momentumnya bullish setelah bangkit dari area 38,81.

Suhu di pelabuhan Newcastle Australia adalah 18°C dengan cuaca cerah sepanjang hari. Keadaan ini mendukung proses pemuatan batu bara di pelabuhan sehingga proses pengiriman dari pelabuhan diprakirakan berjalan lancar. Dengan demikian, cuaca tidak bisa dimasukkan ke delam faktor yang dapat memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek.

Kebuntuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya masih mengendalikan sentimen komoditas secara keseluruhan. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini menolak proposal yang ditawarkan Iran sebelumnya pekan ini. Proposal tersebut salah satunya adalah penundaan pembahasan isu nuklir. Isu tersebut dianggap penting bagi AS karena Trump tidak akan mencapai kesepakatan damai dengan Iran kecuali Iran menghentikan program nuklirnya. Ditambah, ada indikasi Trump akan memperpanjang blokade terhadap Iran.

Dampak dari perkembangan tersebut membuat harga-harga komoditas tetap lebih tinggi dari level-level pra konflik Timur Tengah dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus $100 pada hari kemarin dan sempat meraih $107,35 sebelumnya hari ini, level tertinggi sejak 10 Maret 2026.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $103,43 naik dari $99,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $77,71 naik dari $72,28
  • Batubara II (4.100 GAR) $52,84 naik dari $49,99
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,30 naik dari $35,23

Hari ini merupakan hari terakhir harga-harga di atas berlaku dan besok akan ada HBA baru untuk periode pertama Mei 2026. Mengingat harga batu bara ICE Newcastle merayap naik dalam beberapa hari terakhir, pasar ingin melihat apakah hal tersebut tercermin dalam HBA baru.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI), Bahlil Lahadalia, memaparkan sejumlah perkembangan terkait energi di Bogor pada hari Rabu kemarin, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Produksi dan cadangan batu bara di Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri menjadi salah satu alasan negara tahan terhadap krisis energi di samping potensi energi baru dan terbarukan. Dari sisi minyak dan gas (migas), Menteri Bahlil menyebut pencapaian lifting minyak Indonesia pada tahun 2025 mencapai target APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 605 ribu bph dan targetnya dinaikkan menjadi 610 ribu bph di tahun 2026.

Sementara untuk mengurangi ketergantungan pada liquefield petroleum gas (LPG) impor, pemerintah berada dalam tahap pembahasan untuk menggunakan alternatif subsitusi seperti Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah serta pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Prakiraan Harga NZD/USD: Naik Mendekati 0,5850 meskipun Bias Bullish Memudar

NZD/USD menguat setelah dua hari mengalami penurunan, diperdagangkan di sekitar 0,5840 selama perdagangan sesi Eropa pada hari Kamis. Analisis teknis pada grafik harian menunjukkan bias bearish yang mulai muncul karena pasangan mata uang ini tetap berada di bawah ascending channel.
Read more Previous

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD kembali di atas $4.600 saat Dolar AS melemah

Emas (XAU/USD) diperdagangkan lebih tinggi setelah aksi jual selama tiga hari pada hari Kamis
Read more Next