USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.820; PPI AS Redakan Taruhan The Fed, RAPBN 2027 Disorot

  • Kurs Rupiah ditutup menguat 40 poin ke Rp17.820 per Dolar AS pada Jumat, sementara JISDOR naik ke Rp17.836.
  • Pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per Dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 6,0% dan defisit 2,4% PDB.
  • PPI AS yang lebih rendah dari prakiraan menekan taruhan kenaikan suku bunga The Fed, meski kenaikan harga minyak membatasi sentimen positif terhadap Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.820, turun 40 poin dari Rp17.860 pada Kamis. Penguatan Rupiah mendapat dukungan dari data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari prakiraan dan meredanya taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara kenaikan harga minyak menjadi faktor pembatas. Setelah pasar valuta asing domestik tutup, perhatian beralih ke RAPBN 2027, yang menetapkan asumsi nilai tukar Rupiah sebesar Rp17.500 per Dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke Rp17.836 per Dolar AS dari Rp17.882 pada Kamis.

RAPBN 2027 Asumsikan Rupiah Rp17.500 per Dolar AS

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0%, inflasi 2,5%, nilai tukar Rupiah rata-rata Rp17.500 per Dolar AS, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sebesar 6,9%. Pendapatan negara direncanakan mencapai Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun, dengan defisit sekitar Rp671,2 triliun atau 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka RAPBN tersebut diumumkan setelah pasar valuta asing domestik tutup sehingga belum tercermin dalam penutupan Rupiah Jumat. Asumsi kurs Rp17.500 juga berada di batas atas kisaran Rp16.800–Rp17.500 per Dolar AS yang sebelumnya digunakan pemerintah dalam pembahasan awal kerangka ekonomi makro 2027.

PPI AS Melandai, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Turun

Dari eksternal, data AS pada Kamis menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) Juli tidak berubah secara bulanan atau 0,0%, lebih rendah dari prakiraan kenaikan 0,2%. Secara tahunan, PPI melandai menjadi 4,7% dari 5,5% dan berada di bawah konsensus 4,9%. PPI inti naik 0,2% secara bulanan, juga lebih rendah dari prakiraan 0,3%, sedangkan secara tahunan turun menjadi 4,2% dari 4,7%. Klaim tunjangan pengangguran awal AS pada saat yang sama naik menjadi 209 ribu, di atas prakiraan 202 ribu dan sebelumnya 200 ribu.

Data tersebut semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memprakirakan probabilitas 67,4% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75%, sedangkan peluang kenaikan 25 basis poin ke 3,75%–4,00% turun menjadi 32,6% dari 44,4% sepekan lalu. Dolar AS turut melemah pada sesi Eropa Jumat, dengan Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,20% ke 99,75 dan bertahan di bawah level psikologis 100.

Namun, kenaikan harga minyak membatasi sentimen positif terhadap Rupiah. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$82,80 per barel, naik 1,91%, sementara Brent menguat 1,70% ke US$88,55 per barel. Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing negara pengimpor energi seperti Indonesia jika kenaikan berlanjut.

Penjualan Ritel AS Menjadi Fokus Berikutnya

Pelaku pasar selanjutnya menunggu Penjualan Ritel AS Juli pada Jumat malam, yang diprakirakan naik 0,1% secara bulanan setelah meningkat 0,2% pada Juni. Penjualan Ritel di luar otomotif diprakirakan naik 0,2% setelah turun 0,2% sebelumnya. Perhatian juga tertuju pada survei pendahuluan University of Michigan, dengan indeks sentimen konsumen diprakirakan turun menjadi 54,5 dari 55,2, serta ekspektasi inflasi konsumen yang dapat memengaruhi kembali prospek suku bunga The Fed dan arah Dolar AS menjelang perdagangan pekan depan.

Indikator Ekonomi

Penjualan Ritel (Thn/Thn)

Data Penjualan Ritel, yang dirilis oleh Biro Sensus AS setiap bulan, mengukur nilai total penerimaan dari toko ritel dan makanan di Amerika Serikat. Penjualan Ritel mengukur perubahan nilai total barang yang dijual di tingkat ritel selama setahun. Data Penjualan Ritel secara luas diikuti sebagai indikator belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama ekonomi AS. Hasil yang lebih tinggi dari yang diharapkan biasanya dipandang sebagai positif atau bullish bagi USD, sedangkan hasil yang lebih rendah dari yang diharapkan dianggap negatif atau bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Agu 14, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 6.7%

Sumber: US Census Bureau

Data Penjualan Ritel yang diterbitkan oleh Biro Sensus AS merupakan indikator utama yang memberikan informasi penting tentang pengeluaran konsumen, yang berdampak signifikan pada PDB. Meskipun angka penjualan yang kuat kemungkinan akan meningkatkan USD, faktor eksternal, seperti kondisi cuaca, dapat mendistorsi data dan memberikan gambaran yang menyesatkan. Selain data utama, perubahan dalam Kelompok Kontrol Penjualan Ritel dapat memicu reaksi pasar karena digunakan untuk menyiapkan estimasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi untuk sebagian besar barang.

Perak Kembali Menguat di Atas $64 saat Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Memudar

Perak (XAG/USD) menguat 0,37% pada hari Jumat dan diperdagangkan di sekitar $64,70 pada saat berita ini ditulis, menghapus sebagian dari koreksi terbarunya.
Leia mais Previous

Yen Jepang: Bias Bearish dalam kisaran 158,00–160,20 terhadap Dolar AS – UOB

Quek Ser Leang dan Lee Sue Ann dari United Overseas Bank (UOB) menilai aksi harga USD/JPY belum meyakinkan dalam perdagangan harian, dengan perdagangan diprakirakan berada di antara 159,00 dan 159,70 setelah kisaran ketat 159,01–159,56.
Leia mais Next