USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.625, Minyak Dekati US$100 Batasi Kenaikan

  • Kurs Rupiah menguat 15 poin ke Rp17.625 per Dolar AS, sementara JISDOR turun ke Rp17.618.
  • Dolar AS melemah ketika Yen menguat tajam, tetapi imbal hasil Treasury AS tetap tinggi menjelang data inflasi AS.
  • Brent mendekati US$100 per barel; MUFG memperingatkan harga minyak tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap fiskal dan subsidi Indonesia.

Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.625, turun 15 poin dari Rp17.640 pada perdagangan sebelumnya. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga turun ke Rp17.618 dari Rp17.653. Pelemahan Dolar di tengah penguatan Yen membantu Rupiah, sementara harga minyak yang mendekati US$100 per barel dan imbal hasil Treasury AS yang tetap tinggi membatasi kenaikan. Dari dalam negeri, cadangan devisa yang meningkat memberikan dukungan, tetapi MUFG memperingatkan inflasi AS yang lebih kuat dan harga minyak yang tetap tinggi dapat menguji keberlanjutan pemulihan Rupiah di bawah 17.700.

Dolar Masih Tertekan di Bawah 99, Imbal Hasil AS Tetap Tinggi

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 98,97, naik tipis 0,07% pada perdagangan Selasa, tetapi masih tertahan di bawah level 99. Kondisi Dolar yang masih relatif lemah membantu Rupiah mempertahankan penguatannya, meski imbal hasil Treasury AS 10-tahun tetap tinggi di sekitar 4,80%, menjaga risiko terhadap mata uang negara berkembang.

Lloyd Chan dari MUFG memperingatkan bahwa data inflasi AS pekan ini dapat menguji pemulihan Rupiah baru-baru ini. “Inflasi AS yang lebih kuat dapat memperkuat imbal hasil AS yang tetap tinggi dan menantang penembusan terbaru USD/IDR di bawah 17.700,” katanya. Pasar saat ini memperhitungkan sekitar 60% peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pertemuan September, dengan perhatian tertuju pada Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) pada Kamis dan Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) pada Jumat.

Minyak Mendekati US$100, MUFG Soroti Risiko Fiskal

Tekanan lain datang dari harga minyak, dengan Brent bergerak di sekitar US$99 per barel pada sesi Eropa Selasa di tengah meningkatnya risiko pasokan akibat konflik AS–Iran dan gangguan terhadap infrastruktur serta jalur ekspor energi di kawasan.

Chan menilai penyangga domestik masih mendukung Rupiah, tetapi memiliki keterbatasan. Kepemilikan asing atas SRBI yang beredar telah mencapai sekitar 27%, mendekati level tertinggi pada akhir 2024, sementara memburuknya neraca perdagangan migas mulai mengurangi manfaat dari ekspor komoditas. “Perhitungan kami menunjukkan harga Brent di atas US$82/barel mulai mengikis efek penyangga dari ekspor batu bara, minyak sawit, dan logam dasar,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa tekanan dapat meluas ke fiskal jika harga minyak terus meningkat. “Jika harga minyak bergerak di atas US$100/barel dan bertahan di sana untuk periode yang berkepanjangan, kekhawatiran baru atas risiko fiskal dan biaya subsidi dapat muncul kembali,” kata Chan.

Tekanan energi masih terlihat di dalam negeri setelah sejumlah BBM nonsubsidi kembali naik pada awal September, sementara harga Pertalite dan Biosolar subsidi tetap dipertahankan. Dexlite naik menjadi Rp23.700 per liter, Pertamina Dex Rp25.200, dan Pertamax Turbo Rp19.600.

Pada pekan lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah memperhitungkan skenario harga minyak hingga US$100 per barel dan memilih menyerap sebagian tekanannya melalui subsidi untuk menjaga daya beli dan inflasi. Pemerintah memprakirakan defisit APBN masih dapat dipertahankan sekitar 2,85% terhadap PDB, di bawah batas 3%.

Cadev RI Naik, Fokus Beralih ke Data Indonesia dan Inflasi AS

Dari sisi eksternal domestik, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus dari US$145,3 miliar pada Juli. BI menyebut kenaikan terutama berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang pemerintah dan kebijakan stabilisasi Rupiah. Posisi tersebut setara dengan 5,4 bulan impor.

Perhatian pasar domestik selanjutnya beralih ke Indeks Keyakinan Konsumen Agustus pada Rabu, setelah berada di 116,8 pada Juli, serta Penjualan Ritel Juli pada Kamis. Dari AS, IHP (PPI) dan IHK (CPI) pekan ini akan menjadi perhatian utama untuk mengukur arah inflasi dan prospek kebijakan The Fed, yang dapat menentukan apakah pemulihan Rupiah di bawah 17.700 dapat bertahan.

Indikator Ekonomi

Keyakinan Konsumen

Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencerminkan perubahan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya. Laporan tersebut mencakup Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) untuk menggambarkan gambaran akurat terkait sentimen konsumen di negara ini.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 03.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 116.8

Sumber:

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.3%

Sebelumnya: 4.7%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Pound Inggris Memantul dari Terendah Tahun Berjalan saat Pembeli Yen Berhenti Sejenak; Bias Bearish Tetap Ada

Pasangan mata uang GBP/JPY terus melemah untuk hari kedua berturut-turut – sekaligus menandai hari keempat penurunan dalam lima hari terakhir – dan turun ke sekitar 207,00, atau level terendah baru tahun berjalan (YTD) lebih awal pada hari Selasa ini.
Mehr darüber lesen Previous

Forint Hungaria: Tetap Kuat terhadap Euro di Bawah 371 - Societe Generale

catat para analis Societe Generale, EUR/HUF diperdagangkan dalam formasi dasar tetapi terus kesulitan dengan moving average 200 hari di sekitar 371, yang dipandang sebagai resistance penting.
Mehr darüber lesen Next